Entri Populer

Saturday, 11 December 2010

MERAYU TUHAN

Tuhanku Punya SEGALANYA..


Dalam perjalanan ISLAM menyebar di seluruh dunia, banyak tokoh-tokoh Islam yang penting untuk dikenal dan diteladani.
terlebih mereka adalah tongkat estapet dari ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. dari Sahabat -> Tabiin -> Atba Tabi'in... dan berikutnya turun temurun seperti hujan yang lebat hingga sampailah pada kita,


penting utuk diteladanim karena "pengalaman adalah guru terbaik" 
tokoh kita kali ini yaitu seorang figuran yang hebat, dimana tokoh ini hidup dalam sebuah negara dengan Rajanya Harun Ar-Rasyid , beliau yang seirng kita kenal dengan cerita 1001 malamnya yaitu Ab Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hikami (Abu Nuwas) adalah keturunan dari seorang anggota militer Persia Hani Al-Hakam berasal dari Arab sedangkan Ibunya orag Persian(Iran).


semasa hidupnya banyak diceritakan mengenai perilakunya yang menimbulkan kontroversi dengan profesi sebagai pelawak atau penghibur.
Abu Nuwas juga adalah figur seorang guru yang sangat pintar dimana selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan maupun  menjawab pertanyaan dengan sederhana tapi berbobot, tapi tak jarang juga murid-muridnya sendiri mengomentari pernyataan Abu Nuwas dalam banyak perbincangan.

satu saat Abu Nuwas menerima tiga orang tamu dan masing-masing melontarkan pertanyaan;
1: Manakah yang lebih utama antara orang yang melakukan dosa kecil dengan yang melakukan dosa besar?
Abu Nuwas menjawab : "Orang yang melakukan dosa kecil"
1: Mengapa?
Abu Nuwas : "Sebab dosa kecil itu lebih mudah untuk dibersihkan"
2:Manakah yang lebih utama antara orang yang melakukan dosa kecil dengan yang melakukan dosa besar?
Abu Nuwas ; "Orang yang tidak melakukan keduanya"
2: Mengapa?
dengan tenang Abu Nuwas menjawab "sebab dengan tidak melakukan keduanya berarti orang itu tak berdosa"
3: Manakah yang lebih utama antara orang yang melakukan dosa kecil dengan yang melakukan dosa besar?
Abu Nuwas : "Orang yang melakukan dosa besar"
3: Mengapa?
Abu Nuwas: "karena Alloh adalah maha pengampun"

dengan selesainya pertanyaan dari tiga orang tamu itu, kemudian tamu itu pergi.


tak lama setelah pergi tamu-tamu Abu Nuwas, sontak ada seorang muridnya yang bertanya " Wahai Guruku, Mengapa  satu pertanyaan yang sama bisa dijawab dengan jawaban yang berbeda? dan hasilnya mereka yang menerima jawabanpun puas"


Abu Nuwas terssenyum seraya menjawab " Manusia mempunyai tiga tingkatan , tingkatan Mata, Otak, dan tingkatan Hati"

Kemudian Murid itu bertanya Apakah tiga tingkatan itu?

Abu Nuwas: "Seorang anak kecil akan mengatakan kalau bintang di langit itu kecil, karena terlihat kecil oleh mata"


"Seorang Ilmuwan akan mengatakan bintang itu Besar, karena mereka mempunyai Ilmu Pengetahuan' itu yang disebut tingkatan otak,


" dan seseorang akan mengatakan bintang itu kecil walapun tahu sebenarnya bintang itu besar, karena dalam hati dan pikiranya tiada yang lebih besar melainkan Kebesaran Alloh Swt."


si murid baru faham setelah mendengar penjelesan dari Abu Nuwas yang dengan santainya menjawab pertanyaan dari muridnya itu


kemudian murid itu bertanya lagi
Wahai guruku mungkinkah manusia menipu Tuhannya?


Abu Nuwas menjawab "Mungkin"


si murid terheran-heran 
Bagaimana caranya? bukankah tuhan itu tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa?

Abu Nuwas: "ya tentunya Maha suci Alloh yang tidak pernah Tidur dan tidak pernah Lupa"

tapi manusia sering melakukan dosa kemudian bertaubat.
tu seperti manusia merayu TuhanNya... karena "Alloh itu sesuai dengan prasangka hambanya"


Murid pun bertanya: Adakah do'a untuk merayu tuhan itu? 
tolong ajari aku Guru, ujar muridnya dengan antusias.


Doanya adalah " 
"Ilahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa 'ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi,  fainaka ghafirudz- dzanbil 'adzimi....


Dzunubi mitslu a'daadir- rimali, fahabli taubatan ya Dzal Jalaali,
Wa 'umri naqishu fi kulli yaumi, wa dzanbi zaaidun kaifa -htimali


Ilahi 'abdukal 'aashi ataak, muqirran bi dzunubi wa qad di'aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaaka 
  "


"wahai tuhanku... aku tak pantas menjadi penghui syurgaMu, tapi aku sungguh tidak kuat menahan panasnya api nerakaMu, maka terimalah taubatku dan ampinulah segala dosa-dosaku

dosa-dosaku bagaikan pasir dipantai, maka anugerahkan taubat hamba. wahai yang memiliki keagungan, usia hamba berkurang setiap hari sedangkan dosa terus bertambah

Wahai tuhanku, hamba-Mu ini penuh maksiat datang bersimpuh kepadaMu memohon ampunan, jika engkau mengampuni memang engkaupalh pemilik ampunan dan jika engkau menolak kepada siapa lagi aku memohon ampun"


***
Doa itu sampai saat ini sangat populer untuk diamalkan, bahkan banyak pula musisi modern yang membuar syair-syair indah dari doa yang diwariskan dari Abu Nuwas (Allohummagfirlahum)
Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).
Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Monday, 6 December 2010

Maru'ah (Menjaga Harga Diri)

        Allah menciptakan manusia itu adalah sebagai mahluk yang paling berharga dan mulia di permukaan bumi ini. Namun tidak sedikit, manusia sendirilah yang merusak kehormatan dan harga dirinya, dengan melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang tidak sesuai dengan norma-norma agama. Karena itu, kemuliaan yang terdapat dalam diri manusia ini harus selalu dijaga dari pada hal-hal yang dapat merusaknya, baik yang berupa sikap maupun perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri, atau yang dilakukan oleh orang lain terhadap pribadinya.

           Islam memberikan tuntunan kepada umat manusia jika harus dengan mengeluarkan harta demi menjaga kehormatan atau harga diri, hal itu boleh untuk dilakukan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi:
ذُبُّوا عَنْ اَعْرَاضِِكُمْ بِأَمْوَالِكُمْ

“Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu” (HR. Ad-Dailami)
Karena itu, dalam prespektif Islam, harga diri itu lebih berharga dan mulia dari pada harta benda. Namun yang terlihat sekarang, terkadang manusia rela menjatuhkan harga dirinya demi memperoleh keuntungan harta benda.

           Seringkali manusia melakukan perbuatan-perbuatan kekerasan dengan alibi membela harga diri. Padahal untuk menjaga kehormatan atau harga diri menurut ajaran Islam, bukanlah dengan pertengkaran atau kekerasan. Adapun peperangan (dengan pedang) itu terjadi pada saat Islam berkembang satu setengah abad yang lalu, Sebab adanya kekerasan justru menghancurkan harga diri. Selain itu, tidak jarang balasan yang timbul akibat dari sikap kekerasan seringkali berlebihan dan tidak terkontrol. Sehingga akibatnya, justru menjatuhkan martabat kemanusiaannya.

Dalam pandangan Islam, manusia itu berharga karena kemuliaannya, sedang kemuliaan seseorang itu bersumber dari kesabaran dan kebijaksanaannya. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'anخُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ


; بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
(QS. Al A’raaf ayat 199)
“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang baik, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”

Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa, sikap sabar dengan selalu memberikan maaf inilah ajaran yang dituntunkan oleh Allah Swt. kepada hambanya yang beriman. Karena itu, setiap pribadi muslim, hendaknya tidak terpengaruh dengan melakukan pembalasan, ketika ada orang lain yang bersikap atau berbuat tidak baik kepadanya.

Sementara itu, jika diperhatikan kembali, ada yang menarik dari susunan kalimat ayat diatas. Disebutkan bahwa, Allah menganjurkan bagi setiap muslim untuk memberikan maaf dengan tujuan agar mereka berbuat baik, dalam artian, tidak melayani perbuatan bodoh mereka. Sebab jika perbuatan bodoh mereka kita balas, maka mereka akan melakukan perbuatan yang lebih bodoh lagi dari pada perbuatan mereka yang pertama. Selain itu juga, jika kita tidak membalas perbuatannya, maka mereka akan merasa cukup dengan perbuatan yang pertama, karena telah membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga secara tidak langsung, kita sudah membuat orang lain berbuat baik, karena mereka tidak melakukan perbuatan buruk yang kedua dengan sebab sikap kita yang telah memaafkan dan tidak membalas perbuatan mereka yang pertama.

Sikap memberikan maaf ini pulalah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebagaimana telah diriwayatkan ketika beliau diludahi oleh salah seorang yang kafir, setiap kali melewati suatu jalan. Hingga suatu ketika orang kafir tersebut sakit, dan Rasul menjenguknya. Seketika itu juga orang kafir tersebut merasa kagum dan takjub terhadap sikap terpuji yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ini, hingga mendorong dia mengucapkan Dua Kalimat Syahadat dihadapan Rasulullah.

Dari kisah diatas sebenarnya, jika Rasulullah menginginkan membalas perbuatan orang kafir tersebut mudah saja beliau lakukan, tetapi hal itu tidak dilakukannya, namun justru memaafkannya. Bahkan lebih dari itu, beliau juga membalas dengan perbuatan yang baik dengan menjenguknya ketika dia sakit. Sehingga membuat orang kafir tersebut tersentuh dan tergerak untuk melakukan perbuatan yang baik juga.

Selain itu, tercatat juga dengan tinta emas dalam sejarah Islam, di saat banyak orang kafir Mekah berusaha mencelakakan dan menyakiti beliau karena agama yang disebarkannya, maka Rasulullah Saw. beralih pergi ke kota Thaif untuk berdakwah di sana, dengan harapan penduduk kota tersebut mau beriman kapada agama yang dibawanya. Namun tatkala sampai di kota Thaif, yang beliau dapatkan bukanlah sambutan hangat atas dakwahnya, tetapi justru tidak jauh beda dengan yang terjadi di Mekah, yang didapatkannya adalah lemparan-lemparan batu yang membuat darah suci dari insan termulia ini mengucur keluar membasahi sampai kakinya. Sementara itu terjadi, malaikat jibril datang menawarkan kepada Nabi, agar memerintahkan kepadanya untuk mengadzab mereka, namun beliau menolak. Dan justru beliau mendoakan penduduk Thaif agar mendapat petunjuk, dengan doa yang masih tetap melegenda sampai sekarang:
اَلَّلهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti”

Inilah contoh sikap yang diajarkan dalam ajaran Islam, bahkan Allah Swt juga memuji hambanya yang memiliki sifat demikian. sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an ;
 
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا 
(QS. Al-Furqon: 63)
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”

Dengan demikian, segala bentuk kekerasan yang dilakukan, walaupun dengan dalih membela harga diri, jelaslah bukan merupakan cara yang benar. Ketika orang lain malakukan kesalahan, dan dibalas dengan kesalahan, maka tidak ada beda antara keduanya, dan tentunya cara demikian bukanlah ajaran Islam dan sangat dibenci oleh Allah Swt. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi:
اَبْغَضُ الرِّجَالِ اِلَى اللهِ اْلأََلَدُّ الْخَصِمُ

“Laki-laki yang paling dibenci oleh Allah Swt. adalah laki-laki yang keras” (HR. Bukhori Muslim)

(sumber; kultum rutin Habaib)

Do'a yg tak disadari

      Saya gak ingat semalam ada angin segar apa, tapi saya bersyukur kalo malam itu suasana hati kami senang banget, karena masing-masing pejabat perusahaan udah dapet tugas untuk dedline yang dekat..
hufh, sepertinya lelah. tapi ketika pulang rasanya Plong.

     udah sampai kosan nih, eh ada pedagang nasi goreng,
     "Mas pesan Mie Goreng 2 ya.."
10 menit udah siap santap, kami bayar makanan yang akan kami lahap itu dengan uang hasil keringat sendiri. senanng.. sekali.

     setelah ijabqobul bayar makanan
     "Terimaksih Bos......"

saya dengar kata-kata itu dari pedagang yang baru saja kami beli dagangannya,

aku tersadar, sebagian banyak pedagang sering melakukan hal itu...

dan, udah banyak banyak orang-orang yang sukses jadi pedagang..
karena sebagian besar pintu rejeki adalah berniaga..

Kenapa banyak juga yang belum berhasil???

"bisa aja karna do'a yang pedagang itu ucapkan mereka lakukan bukan dengan ikhlas melainkan penyangga agar pelanggan senang semata"

menurutku kata-kata itu Adalah DO'A
dan
Setiap Do'a pasti didengar dan dikabulkan
"Ud'uunii astajiblakum..."

Saturday, 4 December 2010

Kendalikan Emosi Anda







        Para ahli mengatakan bahwa beberapa emosi negatif yang sangat berdampak pada kesehatan, ini tidak hanya membuat anda murung tetapi membunuh anda secara perlahan. Bisa di bilang jarang orang tahu mengenai hal ini. Nah bisa dibilang hal yang tak anda ketahui dapat merusak tubuh dan kesehatan anda loh. Jika anda sudah sadar nah anda harus mennghilangkan nya bukan ?

Dampak dari emosi yang mematikan menurut Dr. Don Colbert

        Kemarahan dan kebencian terpendam dapat menyebabkan : Tekanan darah tinggi, Sakit Kepala migrain, Penyakit jantung, Tukak lambung dan Stroke

       Kesedihan dan ketakutan dapat menyebabkan : Depresi, Trauma, Phobia, Kecemasan yg berlebihan dan Penyakit mental lainnya

       Semua emosi di masa lalu yang tak pernah dibersihkan dan menumpuk dapat menyebabkan penyakit yang mematikan seperti kanker. Mulai banyak para ahli yang menyatakan bahwa kanker bukan hanya di sebabkan oleh faktor pola hidup dan kesehatan tetapi juga disebabkan oleh karena adanya akumulasi emosi negatif yang tak dapat disalurkan.

Dr. Robert Eliot, seorang ahli kardiologi ternama menemukan bahwa ketika temperamen tinggi dan bahkan perasaan marah dan permusuhan terpendam maka tekanan darah naik secara tajam. Bahaya sekali jika melihat dampak dari emosi negatif. Untuk itu Time Line Therapy Indonesia memperkenal kan teknik secara konsisten dengan memberikan sertifikasi/lisensi pada para praktisi nya untuk membantu banyak orang unutk membersihkan emosi negatif.

Pertanyaan nya adalah bagaimana mungkin kita bisa tahu apakah kita punya emosi negatif atau tidak??? Sederhana saja,

"Silahkan anda ingat peristiwa dimasa lalu yang cukup signifikan berdampak pada perasaan atau emosi anda, rasakan seperti anda mengalaminya kembali". Jika anda masih dapat merasakan emosi nya artinya anda belum melepaskan nya, dan emosi itu masih tersimpan bukan hanya dalam pikiran anda tetapi di dalam tubuh anda yang dapat mengakibatkan gangguan2 kesehatan.

        Kemungkinan kedua adalah, anda mungkin telah berhasil melakukan resolusi dari emosi negatif tersebut dalam hal ini emosi tersebut dapat dikatakan hilang, karena menurut quantum fisika semua emosi adalah ilusi sehigga ketika anda telah mengambil hikmah atas apa yang terjadi maka emosi negatif tersebut tergantikan oleh hikmah psitif atau pelajaran yang dapat menghasilkan emosi positif.


sumber: